Senin, 27 April 2015

Ibu Maria



Ibu ini bernama Ibu Maria. Ibu Maria adalah seorang penjual sate keliling. Ibu Maria tinggal di Bareng, Klaten. Usia Ibu Maria saat ini adalah 50 tahun.

Ibu Maria sudah 30 tahun bekerja sebagai tukang sate. Pekerjaannya dimulai sejak tahun 1980-an. Setiap hari, Ibu Maria berjualan keliling. Setelah berkeliling, beliau menjual satenya di depan toko roti “Muntjul”.

Cara membuat sate menurut cara Ibu Maria adalah pertama potong ayam kecil-kecil, lalu tusuk daging ayam. Saat akan berjualan, daging-daging sate tersebut dibakar terlebih dahulu. Ibu Maria mulai berjualan dari pagi sampai dagangannya habis. Harga 1 sate adalah 750 rupiah dan 1 lontong dihargai sebesar 2.000 rupiah saja.

Suka duka juga dirasakan oleh Ibu Maria sebagai penjual sate keliling. Beliau harus bekerja keras, mengeluarkan “ragad”, dan rasa lelah juga ditanggungnya. Ibu Maria memilih berjualan sate karena berjualan sate adalah kebiasaan orang-orang Madura.

Dari wawancara tersebut, saya bisa mempelajari tentang cara menjadi seorang pedangang/wirausahawan sederhana dan saya juga bisa memahami bahwa menjadi seorang pedagang itu tidak mudah. Saya juga bisa memahami bagaimana keseharian orang lain dalam mencari nafkah. 

Penjual Mie Ayam




Saya mendatangi sebuah warung mie ayam. Warung yang terletak di samping rumah saya ini terlihat cukup ramai. Saya memesan mie ayam dan es teh.

Sambil makan, saya melihat pelanggan yang keluar masuk dari warung. Setelah makan, saya mencoba membuka pembicaraan. Di sana, saya bercakap-cakap dengan Pak Yanto dan istrinya.

Pak Yanto dan istrinya mulai berjualan sekitar 3-4 tahun yang lalu. Mereka berjualan mie ayam untuk kelangsungan hidup keluarga.Warung dibuka oleh Pak Yanto dari pagi sampai malam hari. Harga mie ayam semangkuknya adalah enam ribu rupiah.

Dari wawancara yang saya lakukan, saya mendapat pelajaran bahwa untuk hidup kita harus bekerja keras dan selalu berusaha tanpa mengeluh, karena hidup itu  penuh dengan perjuangan.

Ibu Keryanti Penjual Jenang



Beliau bernama Ibu Keryanti. Ibu Keryanti tinggal di Tempel, Jebukan, Klaten Utara. Pekerjaan Ibu Keryanti adalah berjualan jenang. Jika berjualan jenang Ibu Keryanti berangkat dari rumah pukul 08.00 pagi.
Jika hari Minggu, Ibu Keryanti berjualan jenang di pinggir jalan depan lethok dan jika hari biasa Ibu Keryanti berjualan keliling. Jika hari Minggu sudah menjelang siang tetapi jenang belum habis, Ibu Keryanti berjualan berkeliling sampai jenangnya habis.

 Ibu Keryanti menjual jenang permangkok seharga Rp.3000,00. Didalam jenang tersebut sudah ada jenang gempol dan jenang mutiara. Perhari Ibu Keryanti biasanya mendapat keuntungan Rp.50.000,00
Ibu Keryanti membuat jenang gempol dan jenang mutiara. Jika membuat  jenang Ibu Keryanti membuat sendiri dan kadang–kadang di bantu oleh ibunya. Dengan berjualan jenang Ibu Keryanti dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan Ibunya.
Dari wawancara ini saya belajar kalau bekerja jangan mengenal kata lelah. Bila dagangan belum habis jangan mengeluh tapi tetap berusaha supaya dagangannya habis.