Senin, 25 April 2016



Suami istri penjual pisang molen

Namanya Bapak Slamet dan istrinya yang bernama Bu Putri. Setiap hari pekerjaannya mangkal di depan rumah saya yang kebetulan sebelah Pasar Keden. Beliau- beliau ini sebenarnya berasal dari Madura yang lalu bertransmigrasi ke Pulau Borneo atau Kalimantan untuk mencari nafkah yang lalu pindah lagi ke Jawa Tengah demi untuk mencari sebutir padi. Pantas saat saya bertanya menggunakan bahasa Jawa beliau-beliau tidak bisa menjawab dan logat Madura masih ada pada mereka.


Pak dan Bu Slamet setiap hari buka pukul 6 pagi lalu tutup jam 1 siang. Walau baru 3 bulan berjualan, tapi jangan remehkan…warung molen mereka sangat ramai. Harganya cukup terjangkau, 1000 dapat 8 biji molen. Varian rasanya juga berbeda, karena molennya dicampur dengan coklat.
Dari wawancara ini saya jadi mendapatkan pelajaran hidup yaitu bahwa kita jangan mengeluh dan patang menyerah karena menjalani kehidupan itu tidak semudah yang kita bayangkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar